Tuatara

Tuatara

Riffi M Faizal April 17, 2026 Reptil ,

Mengenal Tuatara: "Fosil Hidup" Bermata Tiga yang Berhasil Selamat dari Zaman Dinosaurus

Bayangkan sebuah mesin waktu biologis. Seekor hewan yang nenek moyangnya pernah berjalan di bumi yang sama dengan Stegosaurus dan Brachiosaurus sekitar 200 juta tahun yang lalu. Hebatnya lagi, ketika asteroid raksasa menyapu bersih para dinosaurus, hewan ini berhasil selamat dan bentuknya hampir tidak berubah hingga detik ini.

Mari berkenalan dengan Tuatara (Sphenodon punctatus), reptil purba paling langka di dunia yang kini hanya bisa ditemukan di beberapa pulau kecil yang terisolasi di Selandia Baru.

Sekilas, mereka terlihat seperti kadal atau iguana biasa. Namun, jangan biarkan penampilannya menipu Anda. Tuatara menyimpan rahasia anatomi yang akan membuat Anda takjub.

Bukan Kadal, Melainkan "Keluarga" yang Hilang

Meskipun bersisik dan merayap, tuatara bukanlah kadal.

Dalam pohon keluarga reptil, kadal dan ular berada dalam kelompok Squamata. Sementara itu, tuatara adalah satu-satunya anggota yang masih hidup dari ordo reptil purba yang disebut Rhynchocephalia (yang berarti "kepala paruh"). Semua kerabat tuatara di ordo ini telah punah jutaan tahun yang lalu.

Oleh karena itu, para ilmuwan sering menyebut tuatara sebagai "fosil hidup". Mempelajari tuatara sama dengan mempelajari bagaimana reptil purba hidup dan berevolusi di era Mesozoikum.

Rahasia Mata Ketiga yang Misterius

Inilah salah satu fitur paling aneh dan ikonik dari tuatara: mereka memiliki tiga mata.

Selain dua pasang mata besar di sisi kepalanya, tuatara memiliki mata ketiga (mata parietal) yang tersembunyi di bawah sisik di bagian atas kepalanya. Mata ketiga ini memiliki lensa, retina, dan sarafnya sendiri!

Untuk apa mata ketiga ini?

Mata ini tidak digunakan untuk melihat pemandangan seperti mata biasa. Para peneliti meyakini mata parietal berfungsi untuk mendeteksi intensitas cahaya (sinar ultraviolet) guna mengatur ritme sirkadian (jam biologis) mereka, serta membantu mereka mengatur suhu tubuh. Pada tuatara bayi, mata ini terlihat seperti bintik pucat di atas kepala, namun perlahan tertutup oleh sisik tebal seiring bertambahnya usia.

Rahang Gergaji yang Tidak Dimiliki Hewan Lain

Jika Anda melihat ke dalam mulut tuatara, Anda akan menemukan desain rahang yang sangat mematikan dan tidak ada duanya di dunia hewan modern.

Mereka memiliki dua baris gigi di rahang atas dan satu baris gigi di rahang bawah. Saat mereka menutup mulut, baris gigi bawah akan pas masuk di antara dua baris gigi atas. Gerakan mengunyah mereka tidak hanya naik-turun, tetapi juga bergeser ke depan dan ke belakang.

Mekanisme ini bertindak seperti gunting daging yang sangat efisien untuk memotong mangsa keras seperti kumbang berkulit tebal, laba-laba, katak, atau bahkan burung kecil. Uniknya lagi, gigi tuatara tidak bisa tumbuh kembali jika patah, karena gigi mereka sebenarnya adalah tonjolan tajam dari tulang rahang itu sendiri.

Kehidupan yang Santai: Tahan Dingin dan Umur Panjang

Berbeda dengan sebagian besar reptil yang sangat bergantung pada panas matahari tropis, tuatara sangat menyukai cuaca sejuk. Mereka akan tetap aktif berburu di malam hari pada suhu di bawah 10°C, suhu yang akan membuat kadal biasa pingsan kedinginan.

Tuatara menjalani hidup dengan sangat, sangat lambat:

Metabolisme Ekstra Lambat: Mereka bisa bernapas hanya sekali setiap satu jam saat sedang istirahat.

Pertumbuhan Lambat: Mereka terus tumbuh hingga usia 35 tahun.

Umur Panjang: Karena siklus hidupnya yang lambat, tuatara dapat hidup hingga usia 100 tahun atau lebih!

Menariknya, tuatara sering berbagi lubang sarang di dalam tanah dengan burung laut (seperti burung petrel). Pada siang hari, saat burung pergi mencari ikan, tuatara tidur di dalam. Pada malam hari, tuatara keluar berburu sementara burung tidur di sarang.

Ancaman Terhadap Sang Penyintas Purba

Bagaimana seekor hewan yang bisa selamat dari kepunahan dinosaurus kini berstatus terancam? Jawabannya adalah campur tangan manusia.

Sebelum kedatangan manusia di Selandia Baru, tuatara tersebar di seluruh daratan utama. Namun, manusia datang membawa mamalia predator seperti tikus Polinesia (kiore), anjing, dan kucing. Karena tuatara berkembang biak dengan sangat lambat (telur mereka butuh waktu hingga 15 bulan untuk menetas!), populasi mereka hancur dalam sekejap karena telur dan anak-anaknya dimakan tikus.

Kini, tuatara liar hanya bisa ditemukan di beberapa pulau kecil lepas pantai Selandia Baru yang telah disterilkan secara ketat dari tikus dan predator mamalia lainnya.

Kesimpulan

Tuatara bukan sekadar reptil bertampang galak. Ia adalah keajaiban biologi, garis keturunan tunggal yang selamat dari jutaan tahun sejarah bumi, dan penyimpan rahasia anatomi purba seperti mata ketiga dan rahang gergaji.

Upaya konservasi yang sangat ketat di Selandia Baru saat ini adalah satu-satunya benteng pertahanan yang memastikan bahwa "fosil hidup" ini tidak benar-benar berubah menjadi fosil batu di zaman modern.

Komentar